
Nyeri dada akut (acute chest pain) merupakan salah satu keluhan yang sering membawa pasien ke Instalasi Gawat Darurat (IGD). Salah satu kondisi yang perlu segera dievaluasi adalah Sindrom Koroner Akut (SKA), termasuk infark miokard akut.
Pada infark miokard, iskemia yang berlangsung cukup lama dapat menyebabkan kerusakan sel otot jantung yang bersifat irreversible. Karena itu, diagnosis sedini mungkin sangat penting untuk mempercepat penanganan dan mengurangi risiko kerusakan miokard yang lebih luas.
Dalam proses diagnosis, pemeriksaan cardiac marker, terutama cardiac troponin, menjadi salah satu komponen penting bersama evaluasi klinis dan pemeriksaan penunjang lainnya. Pedoman klinis juga menekankan pentingnya ketersediaan hasil troponin dalam waktu yang cepat untuk mendukung pengambilan keputusan di IGD. Materi yang menjadi dasar artikel ini mencantumkan target turnaround time (TAT) hingga 60 menit, dengan target ideal 30 menit.
Apa Itu Cardiac Marker?
Cardiac marker atau biomarker kardiak adalah zat yang dapat diukur dalam darah dan dilepaskan ketika terjadi stres atau cedera pada jaringan jantung. Biomarker ini berperan dalam membantu diagnosis, stratifikasi risiko, serta pengelolaan pasien dengan dugaan penyakit kardiovaskular.
Beberapa biomarker yang dikenal dalam evaluasi cedera miokard antara lain:
1. Cardiac Troponin (cTnI dan cTnT)
Cardiac troponin, khususnya Troponin I (cTnI) dan Troponin T (cTnT), merupakan biomarker pilihan untuk mendeteksi cedera miokard dan menjadi komponen utama dalam diagnosis infark miokard.
Diagnosis infark miokard tidak ditentukan hanya berdasarkan satu angka troponin. Secara umum, diperlukan adanya pola kenaikan atau penurunan (rise/fall) cardiac troponin dengan setidaknya satu nilai berada di atas 99th percentile, yang kemudian harus diinterpretasikan bersama kondisi klinis pasien.
2. High-Sensitivity Cardiac Troponin (hs-cTn)
Perkembangan teknologi menghasilkan generasi pemeriksaan high-sensitivity cardiac troponin (hs-cTn) yang mampu mendeteksi konsentrasi troponin yang lebih rendah dengan presisi yang lebih baik dibandingkan pemeriksaan troponin konvensional.
Kemampuan ini memungkinkan penggunaan hs-cTn dalam algoritma diagnostik cepat, termasuk pendekatan rule-out dan rule-in berdasarkan kadar awal serta perubahan konsentrasi troponin dalam interval waktu tertentu, seperti algoritma 0/1 jam.
3. CK-MB
CK-MB merupakan biomarker yang secara historis banyak digunakan dalam evaluasi infark miokard. Biomarker ini meningkat sekitar 4–9 jam setelah onset dan umumnya kembali normal dalam 48–72 jam.
Namun, seiring berkembangnya pemeriksaan troponin dengan sensitivitas dan spesifisitas yang lebih baik, penggunaan CK-MB untuk diagnosis awal infark miokard menjadi lebih terbatas. Salah satu peran yang masih relevan adalah sebagai pemeriksaan tambahan dalam kondisi tertentu, seperti evaluasi kemungkinan re-infarction.
4. Myoglobin
Myoglobin merupakan protein pengikat oksigen yang terdapat pada otot jantung maupun otot rangka. Biomarker ini dapat meningkat lebih awal setelah terjadinya cedera miokard, tetapi tidak spesifik terhadap jaringan jantung.
Karena keterbatasan tersebut, myoglobin kini memiliki peran yang lebih terbatas dibandingkan cardiac troponin dalam diagnosis infark miokard.
Mengapa hs-cTn Menjadi Pilihan Utama?
Keunggulan utama hs-cTn terletak pada kemampuannya mendeteksi kadar troponin yang sangat rendah dengan presisi tinggi. Materi sumber menyebutkan bahwa pemeriksaan high-sensitivity dapat mendeteksi kadar troponin sekitar 10–100 kali lebih rendah dibandingkan pemeriksaan konvensional dengan presisi CV <10%.
Dengan karakteristik tersebut, hs-cTn mendukung penerapan algoritma diagnostik cepat untuk membantu menentukan apakah pasien dapat segera menjalani rule-out, memerlukan observasi dan pemeriksaan serial, atau memerlukan penanganan lebih lanjut.
Namun, hasil hs-cTn tetap tidak boleh diinterpretasikan secara terpisah. Nilai troponin harus dipertimbangkan bersama gejala, riwayat klinis, EKG, perubahan kadar troponin secara serial, serta temuan klinis lainnya.
POCT vs CLIA: Mana yang Lebih Tepat untuk Cardiac Marker?
Dalam praktiknya, pemeriksaan cardiac marker dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan, termasuk Point-of-Care Testing (POCT) di dekat pasien dan pemeriksaan Chemiluminescence Immunoassay (CLIA) di laboratorium.
Keduanya memiliki karakteristik dan keunggulan yang berbeda.
| Parameter | POCT | CLIA Laboratorium Sentral |
| Turnaround Time | Sekitar 10–20 menit | Sekitar 40–60+ menit, tergantung workflow dan transport sampel |
| Sensitivitas analitik | Bervariasi antar platform | Tinggi, terutama pada assay high-sensitivity |
| Presisi | Bervariasi antar perangkat dan kondisi operasional | Umumnya lebih konsisten dengan QC laboratorium yang terstandardisasi |
| Sampel | Dapat menggunakan whole blood, tergantung perangkat | Umumnya serum atau plasma |
| Operator | Staf klinis yang telah dilatih | Tenaga laboratorium terlatih |
| Keunggulan utama | Kecepatan dan pemeriksaan dekat pasien | Sensitivitas, presisi, standardisasi, dan kapasitas pemeriksaan |
Materi sumber menunjukkan bahwa POCT unggul dalam kecepatan, sedangkan pemeriksaan laboratorium sentral memberikan performa analitik yang lebih konsisten dan mendukung penerapan algoritma hs-cTn secara terstandardisasi. Karena itu, pertanyaannya bukan semata-mata “POCT atau CLIA?”, melainkan bagaimana teknologi dapat memberikan hasil yang cepat tanpa mengabaikan kebutuhan terhadap performa analitik dan workflow klinis.
Ketika Prinsip CLIA Dibawa Lebih Dekat ke Pasien
Perkembangan teknologi memungkinkan prinsip chemiluminescence immunoassay yang umum digunakan pada laboratorium untuk dikemas dalam platform yang lebih ringkas dan dapat ditempatkan lebih dekat dengan pasien.
Salah satu pendekatan tersebut diterapkan pada SuperFlex, automated cartridge-based CLIA analyzer dari Virtue Diagnostics Indonesia.
SuperFlex menggunakan metode direct chemiluminescence berbasis acridinium ester, yaitu prinsip deteksi yang sama dengan teknologi CLIA, dalam platform yang dirancang untuk pemeriksaan fleksibel di dekat pasien. Sistem ini memiliki 24 posisi sampel dan 12 reaction channel independen dengan throughput hingga 60 tes per jam.
Pemeriksaan Cardiac Marker pada SuperFlex
SuperFlex mendukung sejumlah parameter yang relevan dalam evaluasi kardiovaskular, antara lain:
| Parameter | Waktu Deteksi | Volume Sampel | Rentang Pengukuran |
| hs-cTnI | 12 menit | 100 µL | 2–100.000 ng/L |
| CK-MB | 12 menit | 50 µL | 0,3–300 ng/mL |
| Myoglobin | 6 menit | 40 µL | 1–3.000 ng/mL |
| D-Dimer | 14 menit | 40 µL | 0,1–80 mg/L FEU |
| NT-proBNP | 14 menit | 50 µL | 15–30.000 pg/mL |
Waktu tersebut merupakan waktu deteksi parameter dan tidak selalu sama dengan keseluruhan TAT layanan klinis, yang tetap dipengaruhi oleh proses pengambilan, penanganan, dan interpretasi sampel.
Penggunaan sistem berbasis kartrid juga memberikan fleksibilitas operasional karena setiap pemeriksaan menggunakan reagen dalam format sekali pakai, sehingga dapat membantu mengurangi persoalan stabilitas reagen terbuka pada fasilitas dengan volume pemeriksaan yang fluktuatif.
Bagaimana Performa hs-cTnI pada SuperFlex?

Salah satu data yang tersedia untuk SuperFlex berasal dari studi Zhang et al. (2021). Pada evaluasi tersebut, pemeriksaan hs-cTnI menunjukkan:
- Reprodusibilitas CV: 1,52–1,92%
- Total impresisi CV: 2,69–2,92%
- LoB: 1,0 ng/L
- LoD: 1,8 ng/L
- 99th percentile: 25,6 ng/L
- CV pada 99th percentile: 7,24%
- Korelasi dengan Siemens Advia 2400: r = 0,996
Pada evaluasi diagnostik yang sama, SuperFlex menunjukkan sensitivitas 100%, spesifisitas 81,25%, PPV 57%, dan NPV 100% pada populasi penelitian dengan cut-off 99th percentile sebesar 25,6 ng/L.
Namun, terdapat satu hal penting dalam menginterpretasikan data tersebut: hasil penelitian tersebut menggunakan cut-off 99th percentile, bukan cut-off spesifik untuk algoritma ESC 0/1 jam. Oleh karena itu, data tersebut tidak dapat secara langsung disimpulkan sebagai validasi bahwa SuperFlex memiliki performa yang identik dengan algoritma rule-out 0/1 jam pada seluruh populasi pasien.
Transparansi terhadap batasan data seperti ini penting agar performa suatu perangkat dapat dipahami sesuai konteks validasi klinisnya.
Kapan POCT, CLIA, atau Pendekatan Hybrid Dibutuhkan?
Tidak ada satu metode yang secara universal paling tepat untuk seluruh fasilitas kesehatan. Pemilihan metode perlu mempertimbangkan kondisi pasien, kebutuhan klinis, workflow, sumber daya, serta ketersediaan laboratorium.
Secara umum:
- POCT dapat memberikan manfaat ketika kecepatan hasil menjadi prioritas, terutama untuk triase awal dan fasilitas dengan akses terbatas terhadap laboratorium sentral.
- CLIA laboratorium sentral tetap memiliki peran penting ketika diperlukan sensitivitas dan presisi tinggi, standardisasi QC, serta penerapan algoritma diagnostik berbasis hs-cTn.
- Pendekatan hybrid dapat menjadi pilihan ketika fasilitas membutuhkan pemeriksaan dekat pasien sekaligus tetap mempertahankan akses terhadap pemeriksaan laboratorium yang lebih komprehensif.
Materi sumber juga merekomendasikan kombinasi CLIA sebagai pemeriksaan utama dengan POCT sebagai pendukung pada rumah sakit rujukan yang memiliki laboratorium terakreditasi.
Kesimpulan
Pemeriksaan cardiac marker memiliki peran penting dalam evaluasi pasien dengan nyeri dada dan dugaan infark miokard. Di antara berbagai biomarker yang tersedia, cardiac troponin, khususnya high-sensitivity cardiac troponin (hs-cTn), merupakan biomarker pilihan untuk mendeteksi cedera miokard dan mendukung algoritma diagnosis cepat.
Di sisi lain, kebutuhan akan hasil yang cepat membuat POCT semakin relevan dalam pelayanan gawat darurat. Tantangannya adalah memastikan bahwa kecepatan pemeriksaan tetap diimbangi dengan performa analitik yang sesuai dengan kebutuhan klinis.
Perkembangan platform seperti SuperFlex menunjukkan bagaimana teknologi CLIA berbasis kartrid dapat dikemas dalam sistem yang lebih ringkas untuk mendekatkan pemeriksaan ke pasien, dengan sejumlah parameter kardiovaskular yang dapat diperiksa dalam waktu relatif singkat.
Pada akhirnya, pemilihan teknologi pemeriksaan cardiac marker bukan sekadar persoalan memilih mana yang paling cepat atau paling akurat, tetapi menentukan solusi yang paling sesuai dengan kebutuhan klinis dan workflow masing-masing fasilitas kesehatan.
Sumber:
Presentasi pemateri pada RTD Virtue Diagnostics Indonesia at PBPK 2026
Pemateri 1: Dr. dr. Ika Prasetya Wijaya, Sp.PD, K-KV, FINASIM, FACP, FICA
Pemateri 2: Dr. dr. Abas Suherli, Sp.PK(K)